Senin, 31 Agustus 2009

Polling Bisnis.com, Taufik Kiemas Tak Layak Ketua MPR

Berdasarkan polling yang digelar bisnis.com sejak awal pekan lalu, Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Taufik Kiemas dinilai sangat tidak layak jika menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2009-2014.


Hasil polling itu menunjukkan, sedikitnya 57,19% responden menyatakan bahwa suami Megawati Soekarnoputri itu sangat tidak layak. Responden yang menyatakan tidak layak juga cukup besar , yaitu 33,39%. Hanya 4,79% yang menyatakan layak dan yang berpendapat sangat layak hanya 4,63%.

Pertanyaan polling tersebut adalah, “Apakah Taufik Kiemas layak jadi Ketua MPR? “ Tersedia sedikitnya empat pilihan jawaban, yaitu “sangat layak, layak, tidak layak, dan sangat tidak layak”

Polling bisnis.com yang digelar setiap pekan tidak bersifat ilmiah dan hanya mencerminkan pendapat pembaca.

Padal pertengahan bulan ini pria bertubuh tambun itu menyatakan siap menjadi Ketua MPR. “Siap, siap. Kalau Pram [Pramono Anung, Sekjen PDIP] yang mengatur bisa. Sponsornya Pram dan [Partai] Demokrat," kata Taufiq Kiemas di pelataran rumahnya, Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, kepada pers pada 12 Agustus lalu.

Taufiq Kiemas menyampaikan bahwa Ketua MPR merupakan tugas yang sangat penting karena mengawasi Pancasila dan UUD 1945. [bi/www.hidayatullah.com]

Sudarnoto : Muhammadiyah Menghadapi Kemusrikan Modern

Jakarta – Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, Pembantu Rektor UIN Syarif Hidayatullah mengingatkan bahwa setelah dahulu Muhammadiyah berdiri menghadapi kemusrikan di jamannya, di jaman modern ini model kemusrikanpun bisa berbeda, dan terjadi pada masyarakt modern yang seharusnya rasional.

Dihadapan peserta Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Sudarnoto memberi contoh bentuk kemusrikan dengan kisah dua perempuan membeli kalung dengan bandul bermotif Al Qur’an. Perempuan pertama adalah wanita karir, dia membeli kalung itu agar dia bisa terjaga dari bahaya. Sedangkan perempuan kedua yang guru madrasah membeli kalung karena alasan bahwa motifnya artistik.

“Perempuan pertama ini jelas menampilkan kemusrikan di jaman modern, karena dia percaya bahwa yang menyelamatkannya adalah benda” terang Sudarnoto. “Ini reproduksi kepercayaan primitif yang percaya kepada kekuatan benda-benda” lanjutnya.

Dari kisah diatas, Sudarnoto berpendapat bahwa sudah saatnya Muhammadiyah di era modern ini berfikir untuk menjawab tantangan-tantangan dakwah di era modern. “Kasus diatas bukan terjadi pada orang tradisional, atau orang miskin dan di desa. Kasusnya terjadi pada orang mapan di dunia modern” tekan Sudarnoto.

Strategi Kebudayaan

Menurut Sudarnoto gerakan Muhammadiyah butuh membangun strategi kebudayaannya. “Strategi kebudayaan yang baik walaupun panjang adalah pendidikan” terang ketua Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat ini. “Pendidikan akan menghasilkan peradaban” terangnya.

Namun kemudian Sudarnoto menyatakan bahwa lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah perlu direkonstruksi apakah mampu menjawab tantangan modern ini. “Apakah sudah Islami lembaga pendidikan Muhammadiyah ? “tanya Sudarnoto. Karena menurutnya indikasi pewajiban jilbab, mata kuliah Al Islam dan juga adanya masjid Kampus tidak bisa menjadi indikasi. “Itu saja jelas belum cukup” tegas Sudarnoto.

Menurut Sudarnoto, yang perlu difirkan adalah ketika sama-sama berkuliah di fakultas ekpnomi, apa bedanya sekolah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan di kampus umum yang lain. “Agenda seperti Islamisasi Ilmu Pengetahuan perlu difikirkan untuk menjadi dasar pengembangan pendidikan Muhammadiyah.” lanjutnya. “Untuk membangun peradaban utama, agenda terbesarnya adalah mereview lembaga pendidikan Muhammadiyah” pungkas Sudarnoto (arif/Muhammadiyah.or.id)

Pelecehan Kartun Nabi Muhammad

NEW YORK - Editor buku yang mencantumkan beberapa gambar ilustrasi Nabi Muhammad, akhirnya manarik gambar kartun tersebut dari buku itu. Penarikan gambar tersebut merupakan upaya mencegah protes dari kalangan Muslim.


Buku "The Cartoons That Shook the World" yang diterbitkan Yale University Press pada November tahun lalu itu sempat memicu protes dari Muslim dunia.
Pengarang buku, Jytte Klausen, seorang professor politik Brandeis University di Waltham, Massachusetts enggan menyetujii permintaan penarikan kartun itu dari buku.

"Secara pribadi, saya sedih karena ada sesuatu yang hilang jika buku tidak dipublikasikan tanpa ilustrasi," kata Klausen seperti dikutip AFP, Senin (31/8/2009).

Ada beberapa ilustrasi Nabi Muhammad lain yang dihilangkan, termasuk ilustrasi yang dibuat pada abad ke-19, Gustave Dore.

Direktur Penerbitan Yale, John Donatich membuat keputusan itu setelah berkonsultasi dengan para diplomat, intelijen, dan akademisi.

"Ini sudah menjadi isu keamanan," tandasnya sambil menambahkan bahwa dia juga mengkhawtirkan keamanan para pekerja Yale.

Kartun Nabi Muhammad pernah muncul pada September 2005 di sebuah surat kabar Denmark. Kondisi tersebut memunculkan protes dari Muslim dunia. Demonstrasi yang terjadi di Pakistan pada Februari 2006, bahkan memakan enam korban tewas.

Yale pada pertengahan Agustus ini meminta pendapat dari berbagai ahli. Setelah itu Yale memutuskan untuk menghilangkan 12 gambar kartun Nabi Muhammad dari buku tersebut.

Pejabat Kesekretariatan PBB Ibrahim Gambari, menyatakan," Anda dapat menghitung kekerasan jika ilustrasi itu dipublikasikan. Ini akan mengakibatkan kerusuhan, saya prediksi dari Indonesia hingga Nigeria."

Intelektual Barat

Penghinaan atas Nabi di Denmark menunjukkan kekalahan intelektual mereka menghadapi geliat Islam di negeri tersebut. Tidak mungkin mereka menghinakan Nabi Muhammad Saw kecuali setelah mereka merasa terancam oleh kehadiran Islam yang masuk akal dan sesuai dengan fitrah tersebut. Mereka tak mampu berdebat dengan para pengemban dakwah yang menjamur di negeri tersebut.

Hari ini, perkembangan Islam di Denmark cukup pesat. Banyak diantara para pemuda dan para pelajar mereka yang mulai berinteraksi dengan para pengemban dakwah. Satu persatu diantara mereka masuk Islam. Bahkan, kaum Muslim Denmark pun berani bersuara membela Islam dan kaum Muslim. Termasuk di dalamnya kerinduan mereka terhadap bersatunya umat Islam di bawah payung Khilafah [baca; Hizbut Tahrir Gencar di Denmark, Pihak Penguasa Minta Awasi Para Remaja dan Anak Muda].

Demikianlah penghinaan atas kaum Muslim terus terjadi tanpa ada satu pun yang menghentikannya. Hal tersebut memperjelas hilangnya harga diri dan wibawa umat yang telah didaulat oleh Allah Swt sebagai umat yang terbaik. Tetapi gelar tersebut hari ini hilang akibat kaum Muslim melupakan tugas mulianya.

Berbeda halnya ketika kaum Muslim bersatu padu menegakkan aturan Allah di muka bumi di bawah payung Khilafah, kewibawaan terpancar. Tak ada satu negeri pun yang berani menghadapi umat yang terbaik tersebut. Tetapi ketika Khilafah berhasil dibubarkan setelah sebelumnya umat dirusak pemikirannya, kewibawaan pun hilang. Kaum Muslim malah mengambil ide-ide dari Barat yang telah digunakan sebagai senjatu penghancur umat seperti ide kebebasan. Padahal, Barat atas nama kebebasan berbicara terus menghina dan memfitnah Islam, Nabi dan umatnya hingga hari ini.


Sungguh, kaum Muslim hanya membutuhkan satu kesatuan politik untuk mengembalikan kejayaan dan kewibawaanya. Kesatuan politik itu hanya ada melalui payung Khilafah Rasyidah yang akan mengerahkan segala potensi umat untuk melawan segala tindakan keji kaum kafir dan menegakkan kemuliaan di muka bumi.

Sudahkan kita mengambil bagian untuk bekerja, bahu-membahu dalam mewujudkannya? Yang pasti, diam ataukah bekerjanya kita untuk mengembalikan kekuatan umat ini, Khilafah Rasyidah akan kembali tegak, karena telah dikabarkan oleh Nabi Saw. "Kemudian akan ada masa Khilafah yang sesuai metode kenabian...(Okz/syb/sbl)

Sabtu, 29 Agustus 2009

Adian Husaini Luncurkan Buku Tentang Pancasila

Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Adian Husaini, meluncurkan buku barunya yang berjudul "Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam". Peluncuran buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press (GIP) itu berlangsung Sabtu, 29 Agustus 2009, bertempat di Aula Masjid al-Furqan, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Jalan Kramat Raya 45 Jakarta.


Melalui bukunya, Adian Husaini berusaha menguraikan sejarah kelahiran Pancasila dan polemik penafsiran Pancasila antara berbagai kelompok di Indonesia, baik golongan Kristen, nasionalis sekular, PKI, maupun golongan nasionalis Islam.

Buku ini memuat banyak sekali data-data sejarah, terutama mengungkapkan bagaimana para tokoh pejuang Islam mencoba memperjuangkan aspirasi Islam melalui rumusan dasar negara, khususnya Pembukaan UUD 1945 yang memuat teks Pancasila.

Hasil penelitian penulis menunjukkan, meskipun ”tujuh kata” (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) telah dihapuskan dari Piagam Jakarta, tetapi naskah yang sekarang menjelma menjadi Pembukaan UUD 1945 tersebut tetap sangat kental dengan warna pandangan-dunia Islam (Islamic worldview) seperti kata Allah, adil, adab, hikmah, musyawarah.

Hal ini, menurut Adian, bisa dibuktikan dari tanggapan tokoh Katolik Dr. Soedjati Djiwandodo, dalam artikelnya di Suara Pembaruan, 9/2/2004, berjudul "Mukaddimah UUD 1945 Tidak Sakral, Perlu Diganti",yang mengusulkan sudah saatnya Indonesia secara tegas menyatakan diri sebagai negara sekuler.

Ada juga penulis Kristen yang mengakui kekalahan tokoh-tokoh Kristen dan Hindu dalam perumusan Pancasila, dalam menghadapi tokoh-tokoh Islam ketika itu. Maka, yang dilakukan oleh kaum Kristen sepanjang sejarah pasca kemerdekaan, adalah mempertahankan tafsir sekular Pancasila. Padahal, penafsiran semacam itu tidak sesuai dengan pemahaman dan maksud para perumus Pancasila (Pembukaan UUD 1945) dari kalangan tokoh Islam, seperti KH Wahid Hasjim, Haji Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan sebagainya, yang secara gigih mempertahankan aspirasi Islam dalam rumusan Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, tidaklah beralasan sama sekali menjadikan Pancasila sebagai alat pemukul dan penindas aspirasi umat Islam. (muslimdaily/inpas)

Buku ini ditulis dengan melakukan riset yang cukup serius terhadap berbagai dokumen dan data sejarah, mengingat akhir-akhir ini ada gejala pada sebagian kalangan untuk mengangkat kembali Pancasila sebagai senjata guna menentang masuknya aspirasi Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti UU Pornografi, UU Makanan Halal, UU Zakat, dan sebagainya. Bahkan, tuduhan-tuduhan anti-Pancasila dan anti-NKRI tak jarang juga dialamatkan kepada umat Islam. Penulis mengingatkan bahwa upaya untuk menyeret Pancasila ke kutub ”netral-agama” (sekular) telah mengalami kegagalan selama Orde Lama dan Orde Baru.

Dr. Adian Husaini, meruapakan peraih gelar doktor Peradaban Islam di Universitas Islam Internasional Malaysia. Ia juga dikenal sebagai penulis produktif yang telah menulis lebih dari 25 judul buku. Bukunya yang berjudul Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (GIP, 2005), meraih juara pertama dalam Islamic Book Fair tahun 2006 untuk kategori non-fiksi.(muslimdaily/inpas)

Bank Syariah Kebal Krisis Global

Bank-bank syariah membuktikan kemampuannya bertahan di tengah terpaan krisis ekonomi global. Bahkan 100 bank Islam terbesar di dunia, justru mengalami peningkatan asset sebesar 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sepanjang tahun 2008.


Majalah The Asian Banker dalam laporan tahunannya menyebutkan bahwa nilai asset 100 bank Islam itu mencapai 580 milyar dollar AS, meningkat sekitar 350 milyar dollar dibandingkan tahun 2007.

"Meski tahun 2008 terjadi badai ekonomi yang melumpuhkan banyak institusi finansial besar di Barat, bank-bank Islam tetap mengalami pertumbuhan," demikian pernyataan pers majalah tersebut.

Presiden dan kepala eksekutif The Asian Banker, Emmanuel Daniel menambahkan, institusi keuangan islami nampaknya makin populer karena regulasinya makin kuat dan kesadaran dunia internasional bahwa sistem keuangan islami lebih dinamis.

Dalam laporan The Asian Banker disebutkan bahwa bank-bank Iran adalah pemain-pemain besar dalam sektor perbankan islami secara global. Sedikitnya tujuh bank islami Iran menempati ranking 10 besar bank islami terbaik dan 12 bank islami Iran masuk dalam 100 bank islami terbesar di di dunia.

Bank-bank islam Iran juga menguasai hampir 40 persen dari total asset 100 bank Islam terbesar. Sisa prosentasenya adalah asset-asset milik bank Islam dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait dan Malaysia. Namun bank yang pendapatan bersihnya paling tinggi adalah Bank Al-Rajhi, Arab Saudi dengan nilai pendapatan bersih mencapai 1,74 milyar dollar atau lima kali dari pendapatan Bank Tejarat, Iran.

Dari luar Timur Tengah, dua bank islami yang masuk dalam 100 bank terbesar di dunia adalah dua bank syariah di Inggris. Sementara untuk kawasan Asia dan Afrika Utara, asset-asset bank islaminya masih relatif kecil. Kecuali bank-bank Islam dari Malaysia dan Bangladesh yang memiliki asset cukup signifikan.

Bank islami lainnya yang masuk daftar 100 bank islami terbesar antara lain dua bank dari Indonesia, tiga bank dari Pakistan, satu bank asal singapura dan satu bank dari Brunei. (muslimdaily/era)

Kamis, 27 Agustus 2009

Kontroversi Dalam Kasus Penangkapan Pimpinan Arrahmah.com

Perkembangan pengungkapan kasus terorisme semakin nglambyar (melebar-JAWA) ke mana-mana. Salah satunya dengan penengkapan M Jibriel Abdulrahman, pimpinan Ar Rahmah Media dan pengelola situs Arrahmah.com. Atasnama kasus terorisme, Jibril (berdasarkan keterangan Arrahmah.com) diculik oleh orang tidak dikenal, setelah sehari sebelumnya menjadi daftar pencarian orang (DPO) polisi. Apa yang bisa dilihat dari peristiwa ini?

Penting rasanya melihat kasus ini dari sudut pandang “apa itu Arrahmah.com”? Bagi yang belum pernah mengunjungi Arrahmah.com, secara sederhana situs ini bisa didefinisikan sebagai media online, seperti detik.com, vivanews.com dll. Sebagai sebuah situs internet, Arrahmah.com pun secara fair menjelaskan dengan detail mengenai “jenis kelamin” media itu. Dalam rubrik Tentang Kami, Arrahmah mendefinisikan diri sebagai “jaringan media Islam yang bertujuan memberikan informasi berimbang tentang Islam dan dunia Islam di tengah-tengah arus informasi modern dan globalisasi.”

Agar lebih lengkap, bisa diklik link ini: http://www.arrahmah.com/index.php/info/about/ Arrahmah.com juga secara terbuka menjelaskan susunan redaksi (klik http://www.arrahmah.com/index.php/info/redaksi/) dan bagaimana cari mengontak mereka dengan menghubungi email (klik: http://www.arrahmah.com/index.php/contact/). Lantas, apakah Arrahmah.com bisa disebut sebagai pers Indonesia? Jawabannya: IYA.

Seperti yang diatur dalam UU No. 40 tahun 1999 tentang pers termuat, definisi pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Karena itulah, penting sekiranya polisi menghormati Arrahmah.com seperti menghormati pers Indonesia lain.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Arrahmah.com terkait dengan terorisme atau jaringan Noordin M. Top? Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja sepenuhnya menjadi domain polisi. Hanya saja, perlu digarisbawahi, polisi tidak bisa mengaitkan Arrahmah.com dengan jaringan terorisme hanya berdasarkan pada content atau isi situs Arrahmah.com. Dengan bahasa yang lebih sederhana, apapun yang dimuat Arrahmah.com tidak lantas bisa “dihakimi” sebagai keterlibatan dengan kelompok tertentu.

Seperti aturan main pers yang sudah disepakati, pers Indonesia tunduk pada dua regulasi; UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Nah, polisi sebagai penegak undang-undang, harusnya melihat, apakah Arrahmah.com melanggar UU Pers atau tidak. Bila memang dianggap melanggar, maka hendaknya polisi menyebutkan bukti-bukti mengenai hal itu. Ingat, polisi tidak bisa sendirian, harus disertai dengan lembaga negara yang ahli di bidang pers, yakni Dewan Pers. Apalagi bila situs yang berjejaring dengan media Islam dari seluruh dunia ini dianggap melanggar Kode Etik Jurnalistik. Posisi Dewan Pers tidak bisa lagi diabaikan. Sebagaimana tertulis dalam Kode Etik Jurnalistik.

“Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.”

Oleh: Iman D. Nugroho

Striker Klub Sevilla Frederick Kanoute: Puasa Memberi Saya Kekuatan

Meskipun mencuat perdebatan fatwa seputar boleh tidaknya kemudahan tak berpuasa bagi seorang pemain bola yang berlaga di siang Ramadhan, namun striker klub Sevilla, Frederick Kanoute, mengesampingkan polemik tersebut. Ia tetap kukuh menjalankan ibadah berpuasa dengan sebaik-baiknya, sekalipun ia berlaga di siang hari Ramadhan.


"Saya menolak fatwa yang membolehkan seorang pemain bola yang berlaga di siang hari bulan Ramadhan untuk tidak berpuasa. Saya memutuskan untuk tetap bershaum," tegas Kanoute, sebagaimana dilansir situs Islamonline (25/8).

Menurut Kanoute, puasa justru banyak memberinya kekuatan dalam berbagai hal: mental dan fisik. "Puasa banyak memberikan saya kekuatan," terangnya.

Ditambahkan oleh Kanoute, sebagai seorang Muslim, dirinya ingin menjadi seorang yang taat terhadap agamanya, dan sebisa mungkin menjalani dan memuliakan ajaran agamanya sebatas kemampuannya.

Dengan menjalankan ajaran luhur agama Islam dengan penuh penghayatan itulah, Kanoute mengaku mendapatkan kekuatan dan spirit hidup yang tiada duanya.

"Berpegang teguh terhadap ajaran agama dapat memberi saya kepercayaan diri dan spirit yang tinggi. Agama memberi saya spirit, dan bermain bola juga memberi saya spirit yang lain. Keduanya tidaklah bertentangan dan berlawanan," tambahnya.

Rupanya, tak hanya Kanoute saja yang menjalani puasa di bulan Ramadhan bersamaan dengan jadwal turun ke lapangan. Para pemain bola Muslim Eropa lainnya, baik yang ada di klub-klub di Inggris, Spanyol, Prancis, Italia, dan lain-lain, mereka tetap memilih untuk berpuasa.

"Namun mereka jarang mengumumkan ke khalayak banyak akan hubungan mereka dengan agama mereka. Puasa tidak menjadikan mereka bermasalah dengan klub dan massa mereka," kata Kanoute.

Trio pemain Muslim di klub Real Madrid, yaitu Lasana Dayara, Mohammed Dayara, dan Karem ben Zima, juga memutuskan untuk tetap berpuasa di bulan Ramadhan ini, meskipun adanya fatwa yang membolehkan mereka tak berpuasa. [atj/iol/hidayatullah.com]